Jaino Matos dan Cerita Tentang Perseru dan BLFC

Badak Lampung FC (BLFC) telah resmi berdiri sejak awal musim 2019 lalu setelah Perseru Serui resmi diakuisisi dan ‘dipindahkan’ ke Lampung. Pasca Perseru Serui resmi berubah menjadi Perseru Badak Lampung FC (Sekarang resmi Badak Lampung FC saja), ada 2 nama dari Perseru Serui yang masih menetap di tim ini, yaitu pemain belakang Kunihiro Yamashita, dan direktur teknik Jaino Matos. Jaino Matos hadir di Peseru pada pertengahan musim 2018 dan menjabat sebagai direktur Teknik. Duetnya Bersama pelatih kepala Wanderlei berhasil membawa Perseru lolos dari jurang degradasi secara dramatis pada akhir musim 2018.

Jaino Matos menuturkan bahwa pasca musim 2018 berakhir, ada investor yang tertarik untuk mengakuisisi Perseru, “Waktu itu ada beberapa calon kota, dan investor akhirnya memilih Lampung”, ujar Jaino. Setelah berhasil menyelamatkan Perseru dari degradasi, Jaino akhirnya ditawar untuk menjadi Strategic Technical Director untuk BLFC. “Setelah berhasil menyelamatkan Perseru dari degradasi, saya ditawar untuk menjadi Strategic Technical Director untuk BLFC, awalnya bapak-bapak komisaris punya rencana membuat BLFC menjadi klub yang kuat dan modern, seperti yang berhasil kita tanamkan di BLFC academy, namun sayangnya di senior tidak berjalan baik”, tambahnya.

“Saat kesepakatan pertama, saya urus semua tentang teknis, termasuk pilihan pemain dan pelatih, sementara pak Marco urus administrasi. Karena untuk urusan teknis wajib dan harus diurus oleh orang yang benar-benar mengerti teknis”, ujar pelatih berusia 40 tahun tersebut. Saat masa persiapan sebelum kompetisi Liga 1 2019 dimulai, BLFC melakukan pemusatan latihan di Boyolali, kala itu Jaino masih in charge di tim senior Bersama dengan pelatih kepala Jan Saragih, namun kesepakatan tersebut tiba-tiba berubah setelah BLFC tiba di Lampung.

“Saat BLFC selesai dari TC di Boyolali dan pulang ke Lampung, ada beberapa orang yang ikut campur di tim senior, dan saya jadi tidak bersedia, lebih baik saya membangun usia muda dan mengambil peran sebagai General Manager pembinaan academy BLFC”.

Cukup miris memang jika diingat perjalanan dari mulai Perseru di era Liga 1 2017 & 2018 hingga BLFC di tahun 2019. Perseru yang notabene tim dengan finansial dan fasilitas yang mungkin cukup seadanya, ditambah dengan perjalanan yang cukup panjang ketika melakoni partai away, namun bisa survive dalam dua musim era Liga 1. Sedangkan BLFC yang hadir ditengah finansial dan fasilitas yang jauh lebih baik, ditambah animo penonton yang luar biasa, justru terdegradasi di akhir musim perdananya di Liga 1.

“Di Perseru, mungkin finansial dan fasilitas tidak sebagus di BLFC, fasilitas berbeda 180 derajat dengan BLFC, tapi kita latihan sungguh-sungguh tanpa bercanda. Di Perseru kita bisa mengatasi banyak hal dengan modal kerja keras, kesungguhan dan dedikasi. Kita tampil dan tempur maksimal, itu yang juga kita terapkan di academy BLFC, namun di senior beda cerita”.

“Kalau masalah kesungguhan dalam pertandingan, mungkin itu subjektif, tapi yang memang jelas kurang di senior adalah jatidiri. Bertempur dan bermain betul-betul sepenuh jiwa di lapangan dengan karakter yang keras dan semangat tempur, memang jelas kelihatan itu semua gak ada.”

Jaino juga mengenang beberapa pertandingan away yang cukup berkesan Bersama Perseru. “Di Perseru walaupun semua sederhana, tapi kita punya modal kesungguhan dan semangat tempur. Kita bisa dapat poin di Bandung, dengan 10 pemain kita bisa ambil poin di Barito. Di 2 tempat itu BLFC kalah.”

“Dalam sepakbola, kurang beruntung dan belum rezeki itu adalah cerita bohong semua. Di dalam sepakbola, ada orang yang serius dan kerja keras, dan ada orang yang bercanda, itulah yang ada di sepakbola. Di tahun 2016 saya bersama Persiba Balikpapan, 70-80% pemain adalah pemain yang baru bermain di Liga, tapi kita bisa berbicara banyak, bahkan kita menjadi satu-satunya tim yang berhasil mengalahkan Bali United home & away. Kita menang di Bali dan di Balikpapan. Dengan pemain yang 70-80% adalah pertama kali main di Liga. Itu semua karena kita tempur, itu yang harus ditanamkan di pikiran pemain dan supporter, bukan kurang rejeki, kurang beruntung, bukan begitu bro.

Dan di akhir perbincangan, Jaino juga berpesan kepada seluruh bibit-bibit pemain muda Lampung untuk terus semangat dan bekerja keras, karena menurutnya, pemain-pemain Lampung memiliiki potensi yang cukup kuat untuk diorbitkan di sepakbola Nasional. “Untuk pecinta sepakbola Lampung, kita akan tetap berjuang demi anak muda asal Lampung. Banyak dari mereka yang tahun lalu bermain di BLFC junior, mereka akan tetap terpantau. Tinggal menunggu waktu, pemain-pemain muda Lampung akan bersinar di sepakbola nasional bro.”