Cerita Ketua Balafans Dalam ‘Tragedi’ Surajaya

Menjelang dimulainya pekan ke 28 Liga 1 2019, Badak Lampung FC sedang berada di peringkat 15 tabel klasemen liga. Pada saat itu, poin yang dimiliki oleh 4 tim terbawah sangatlah ketat. Semen Padang berada di dasar klasemen dengan perolehan 24 poin, menyusul berikutnya ada Persela Lamongan dengan 25 poin dan Kalteng Putra dengan 26 poin di posisi 16. Sementara BLFC berada satu strip di atas zona degradasi dengan 27 poin.

Pekan 28 mempertemukan BLFC berhadapan dengan Persela Lamongan di Stadion Surajaya, markas Laskar Joko Tingkir di Lamongan. Duel papan bawah ini menjadi pertandingan yang sangat penting bagi keduanya. Kemenangan akan sedikit menjauhkan BLFC dari zona degradasi, dan kekalahan akan membawa BLFC jatuh ke zona degradasi. Saat datang ke Lamongan, BLFC memiliki bekal yang cukup baik dari 2 pekan pertandingan sebelumnya, di pekan ke 26, BLFC sukses menang 4-3 atas Arema FC di Stadion Sumpah Pemuda, dan berhasil meraih 1 poin dari partai tandang di Borneo. Pasca pertandingan melawan Borneo di Samarinda, BLFC tidak lantas pulang ke Lampung, Fernandinho dkk langsung menuju Yogyakarta untuk melakukan TC selama kurang lebih 2 minggu, karena saat itu kompetisi sedang ada break selama 2 minggu.

 

Ketua Umum Balafans Lampung yang kebetulan juga hadir di lokasi, Aviv Hidayat, bercerita kepada Lampung Football bagaimana pengalaman ekstrim nya saat hadir di Stadion Surajaya tahun lalu. Cerita dibawah ini merupakan cerita yang langsung disampaikan oleh bung Aviv kepada saya melalui pesan suara, dan saya ubah menjadi sebuah tulisan.

“Saat away ke Lamongan, kami berangkat dari Lampung menuju Jakarta via darat, dilanjutkan dengan naik pesawat menuju Surabaya, dan dari Surabaya ke Lamongan kembali melalui jalur darat. Ketika kami tiba di Lamongan, kami disambut dengan baik oleh pengurus LA Mania, karena kebetulan dedengkotnya LA Mania ini saya udah kenal dari lama, sudah akrab sejak tahun 2007. Kami tiba di H-1 pertandingan, saat itu kami menyempatkan diri untuk sowan ke sekretariat LA Mania, Persela Store, dan main ke Hotel tempat BLFC menginap”.

Credit Pict: IG @Balafanslampung
Credit pict: IG @Antin1987

Stadion Surajaya, 20 November 2020

“Kami datang lebih awal di stadion, stadion tampak sepi dan pengamanan pun tidak terlalu ketat untuk ukuran stadion dengan kapasitas sekitar 20.000. Sebenarnya ‘tanda-tanda’ kerusuhan sudah terdeteksi sejak sebelum dimulainya pertandingan, karena isu demo dan boikot itu sudah santer terdengar sejak perjalanan kami dari Sidoarjo, Surabaya hingga Lamongan”.

Credit pict: IG @Antin1987

“Saat peluit kick off dibunyikan, barulah gerombolan kelompok supporter berpakaian serba hitam memasuki tribun stadion, mungkin itu adalah ultrasnya Lamongan. Sedangkan isu yang beredar sebelum pertandingan adalah, ultras tidak akan menonton di tribun stadion, mereka hanya akan stay di luar stadion. Pertandingan itu adalah pertandingan yang sangat penting bagi kedua tim, maka dari itu saya sampai berangkat ke Lamongan. Dan pada saat itu saya sangat yakin Badak Lampung bisa menang, karena performa tim kita sedang bagus-bagusnya, dan secara permainan di pertandingan itu kita gak kalah sebenarnya. Saat pertandingan mulai berjalan beberapa menit, kelompok ultras semakin ramai masuk kedalam tribun, karena terus terang saya komunikasinya dengan LA Mania ya, bukan dengan ultrasnya”.

Setelah babak pertama selesai dengan skor masih imbang 0-0, tiba-tiba tribun sebelah utara kosong, mereka hanya nonton 1 babak, begitu Half Time, 3/4 dari tribun utara keluar, sedangkan 1/4 nya melebur ke tribun timur dan VIP. Para penonton yang keluar berbaris dan duduk di aspal, mereka ngechants didepan pintu masuk utama, semuanya, perkiraan saya mungkin sekitar 1000-1500 orang lah. Mereka ngechants dan nyalain flare sampai kick off babak kedua dimulai”.

“Babak kedua dimulai, pertandingan mulai berjalan memanas, saya bilang memanas karena mulai banyak pelanggaran-pelanggaran keras yang terjadi. Tiba-tiba di tribun penonton terjadi keributan, di sebelah timur, ada ultras yang dipukuli oleh kelompok supporter atau apa saya juga nggak tau, nggak lama dari itu, di sebelah kanan, kalo nggak salah tribunnya LA Mania sih, ada yang bakar-bakar, yang dibakar itu banner. Ngomong-ngomong soal banner, banner-banner yang dipasang di seluruh penjuru stadion itu bukanlah banner bertuliskan dukungan, melainkan banner berisi kritikan-kritikan pedas untuk tim dan manajemen. Banner tersebut merupakan suara dari para kelompok supporter dan masyarakat Lamongan untuk tim Persela, isinya ya caci maki, tapi ditulis pakai bahasa jawa. Banner-banner itu tidak berhasil diturunkan oleh panpel, dan tetap terpasang saat pertandingan berlangsung hingga selesai”.

“Puncaknya saat di sekitar menit 70, Persela mendapatkan penalty setelah pemain BLFC melakukan pelanggaran di kotak penalty. Pemain Persela (Alex Goncalves) gagal mengeksekusi penalty, setelah itu kondisi menjadi semakin tidak kondusif. Penonton-penonton yang saat half time tadi keluar, tiba-tiba masuk kedalam melalui tribun utama, melalui tribun tempat kami duduk. Nggak lama mereka masuk kedalam stadion, tiba-tiba di lapangan pecah tuh. Keadaan menjadi chaos dan terjadi keributan. Keributannya nggak sama Badak Lampung loh sebenarnya. Jadi gini, pendukung Lamongan kecewa dengan tim nya, jadi mereka menyerang tim nya sendiri. Jadi kalo gak salah waktu itu pemain sama penonton yang ribut, sebenarnya ga ada pukul memukul, hanya kejar mengejar dan mencaci maki lah intinya. Lalu, kejadian itu diperparah karena kami ini terlihat di stadion, karena waktu itu kami memakai atribut berwarna merah. Ada kelompok yang provokasi dan melempar botol ke arah tribun kami, dan seketika kelompok yang tadi melempar botol itu lari ke arah bench pemain cadangan, mengambil botol minum official dan kembali melempari kami dengan botol. Disitu tambah chaos, setelah itu kami langsung diungsikan oleh panpel untuk masuk kedalam lorong stadion. Kami diungsikan dan kami diminta untuk melepas atribut kami. Waktu itu kebetulan saya pakai jaket merah dan kaos hitam, jadi saya lepas jaket aja, jaket saya masukkan tas dan saya pakai kaos hitam. Saya masih bisa jalan keliling-keliling tuh di keributan itu. Disitu saya benar-benar menyaksikan, tidak ada sama sekali intimidasi, provokasi, dan pemukulan dari supporter ke para pemain BLFC. Jadi amarah mereka benar-benar ditujukkan untuk manajemen dan tim Persela Lamongan”.

“Disitu tampak masyarakat Lamongan benar-benar gak mau klubnya hilang dari Liga 1. Chants-chants yang dinyanyikan waktu keributan itu ya benar benar mendukung, “Lamongan pasti menang!! Lamongan pasti bisa!!”. Saat itu kondisi semakin tidak kondusif, akhirnya dipanggil lah perwakilan tim untuk berdiskusi pertandingan akan dilanjutkan atau tidak. Itu lumayan lama, sekitar 20-30 menit. Dan itu sempat dipending lagi sekitar setengah jam. Dan ini saya dapat cerita dari versinya manajemen BLFC, sebenarnya tim kita sudah tidak ingin melanjutkan permainan, karena kondisi di lapangan sudah sangat tidak mendukung. Sekitar gawang sudah dibakar, penonton sudah memenuhi beberapa titik di area sekitar lapangan, dan pihak pengamanan udah susah untuk mengembalikan penonton ke tribun karena banyak sekali massa nya”.

 

“Tapi, nggak tau gimana caranya, pokoknya pertandingan harus dilanjutkan dan Lamongan harus menang, kalau feeling saya saat itu seperti itu. Ternyata bener kejadian, pertandingan kembali diteruskan, penonton berhasil dikembalikan ke tribun, walaupun 90% jadi menempati tribun utama, tapi yang pasti lapangan sudah steril. Saat laga kembali dilanjutkan, belum ada 4 menit sudah ada keributan lagi itu. Saya jujur aja, saya juga mikirin keselamatan saya dan temen-temen yang lain, meskipun saya percaya sih mereka tidak akan mencelakai kami, saya nggak ada feeling penonton Lamongan akan nyerang supporter Lampung yang datang, tapi ya saya jaga-jaga demi keselamatan teman-teman, saya ungsikan lah teman-teman. Kami keluar dari stadion dan langsung pergi menggunakan mobil ke sekretariat LA Mania. Dan itu pertandingan masih berjalan, saat itu, saya sempat komunikasi dengan pak Marco, pak Marco sempat telfon saya langsung dan nanya, “posisi teman-teman ada dimana? udah tinggal aja, saya minta maaf kalo hasil pertandingan nanti tidak sesuai dengan keinginan kita, saya minta maaf”. Saat terima telfon itu saya posisi sudah diluar sambil jalan, itu mungkin pertandingan sudah 15 menit lebih setelah dilanjutkan, sudah hampir selesai lah. Dan saat tinggal beberapa menit lagi, saya kembali berkomunikasi dengan pak Marco melalui telefon, “Ini sebentar lagi selesai viv, masih draw, doain aja ya biar kita bisa dapat poin”.

“Setelah telefon ditutup, tidak lama kemudian tiba-tiba nongol kabar di internet, dan benar kita kebobolan, gak ngerti lagi tuh menit ke berapa, pertandingan sekitar tiga jam, yang menurut saya udah gak masuk akal”.

“Poin yang saya ambil dari kejadian itu, disitu saya bisa lihat gimana kompaknya masyarakat, pendukung, supporter, panpel, dan maaf, kepolisian sekalipun, terlibat semua disitu untuk membuat Persela harus menang, itu yang luar biasa menurut saya, saya akui disitu, saat penonton masuk lapangan, polisi tidak ada yang memukul dan meneriaki penonton untuk tidak turun ke lapangan. Itu semua seperti sudah terskenario, sudah seperti disetting. Jadi saat penonton pecah di lapangan, polisi ya biasa aja hilir mudik, gak ada yang dipukul sama sekali. Itu yang saya salut”.

“Dan mohon maaf di stadion itu ada kalo gak salah sih wakapolresnya, perempuan, itu pun gak ada perintah untuk menangkap atau mengejar para supporter yang rusuh. Ini semua benar-benar seperti sudah direncanakan harus dibuat seperti ini, agar pertandingan terhenti, terus dilanjutkan sampai Persela menang baru selesai”.

“Saat pertandingan sudah selesai dan kami bincang-bincang dengan LA Mania, nggak ada sedikitpun obrolan tentang pertandingan yang baru saja selesai, mungkin ya karena mereka juga malu, Persela menang dengan cara seperti itu. Karena, ya jujur, seharusnya secara permainan waktu itu Badak Lampung menang lah dari Lamongan, cuma ya, kita kena apes, kita di‘setting’ harus kalah, dan itu benar-benar pukulan berat buat para pemain. Mentalnya terutama. Sampai ada beberapa pemain yang sekarang mayoritas sudah nggak di BLFC ya, mereka ngechat ke saya meminta maaf karena hasil pertandingan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saya pun ya tidak bisa ngomong, kita dikalahkan oleh kekuatan yang luar biasa”.

“Saat pulang ke Lampung, saya sempat diskusi dengan pak Marco dan saya katakan, “Om, kita harus kaya Lamongan dongg, kalo main di Lampung kita harus menang, gak ada ceritanya kita kalah di Lampung. Kalo perlu dibikin rusuh kaya di Lamongan, ayo, kita siap!”, saya sempat sampai emosi seperti itu saat bicara dengan pak Marco. Dan Pak Marco hanya menjawab, “Gak perlu viv, kita pasti bisa menang kalau main di Lampung”.

“Intinya, menurut saya BLFC itu jadi korban sih. Kita degradasi itu jadi korban permainan kotor. Kalau dibilang BLFC itu bersih, saya punya kepercayaan BLFC adalah salah satu klub yang memang bersih, kita gak pernah aneh-aneh seperti sogok wasit dll. Sayangnya BLFC ini bersaing dengan klub-klub yang tidak bersih, kita kucing hidup di kandang macan, ya dimakan lah sama macan-macan yang lain”.